bonyang vs keberadaan

    Saya lahir di dunia ini hampir 15 tahun yang lalu. Dalam 15 tahun ini saya tidak melihat banyak. Di bumi yang relatif besar ini saya hanya sanggup melihat sedikit, itu kenyataan. dalam beberapa tahun pertama saya, saya hanya merasakan rutinitas dimana saya hanya bermain, bermain dan bermain. meskipun saya sudah tidak ingat lagi, saya masih dapat merasakan beberapa momen-momen kecil. lalu saya masuk SD, dimana saya sanggup mengingat hal-hal yang lebih besar dan signifikan. Dimana saat saya kelas 4, saya mulai merasa punya sahabat. Sahabat yang mungkin saja mau mengerti saya. Dimana juga saat saya kelas 6 saya mulai merasakan sebuah hal yang orang-orang bilang "cinta" atau mungkin itu hanya pubertas yang berbicara.

   Tidak lama kemudian saya masuk ke dalam keremajaan. hal yang saya sedang alami sekarang. dari segala hal yang saya pernah rasakan. sekarang adalah yang paling menyedihkan. Karena semakin saya dewasa saya semakin mengerti realitas, mengerti kenyataan, Bagaimana sebagian besar kehidupan adalah pengorbanan. Bagaimana kedewasaan bukan sama sekali apa yang selama ini saya bayangkan. kedewasaan hanya sebuah tangga menuju kematian.

   Buat apa senang jika suatu hari kesenangan itu akan berakhir? Itu yang saya selalu pikirkan. dalam 15 tahun ini  konklusi saya soal hidup adalah bahwa hidup itu mematikan, Kita semua akan mati, saya selalu bingung jika orang seumpama takut membicarakan kematian, bahwa kematian dianggap taboo atau menyedihkan. Tapi saya tidak setuju. kematian adalah satu-satunya hal didunia ini yang pasti nyata, satu-satunya hal didunia ini yang saya tau pasti akan terjadi pada saya. Untuk apa saya hidup hanya membicarakan soal politik, cinta, kepercayaan, jika saya tahu bahwa hal seperti itu menipu orang, membawa mereka jauh dari kejujuran, dari kebenaran

  Tapi untuk apa, saya masih berumur 15 tahun. Hidup saya masih panjang. Mungkin kuliah atau dunia kerja dapat mengesankan saya. Tapi untuk sekarang, untuk detik ini, saya hanya bisa duduk tenang dibelakang kelas, melihat orang-orang yang menganggap dirinya senang, dirinya penting dan dirinya spesial. Mungkin suatu hari saya bisa senang. Tapi saya lebih memilih untuk mati daripada melupakan pentingnya kebenaran.


Comments

Popular Posts